Miko juga menyampaikan bahwa penyaluran bantuan ini dilakukan bertahap karena banyaknya instansi atau lembaga yang tiada henti memberikan bantuan. Hal ini dikarenakan, transportasi ke Pulau Bawean yang terbatas.
“Kami memang tidak bisa sekaligus membawa semua bantuan ke Bawean, namun kami sudah jadwalkan untuk pendistribusiannya karena kapal tidak setiap beroperasi menyesuaikan dengan cuaca. Untuk distribusi bantuan terpusat pada satu posko dan akan disalurkan ke seluruh tenda pengungsian, dari kami sendiri ada sekitar 40 tenda pengungsian,” kata Miko.
Miko menambakan bahwa gempa yang terjadi di Bawean selain bersifat merukan juga merupakan jenis gempa kerak dangkal atau shallow crustal earthquake. Gempa ini terjadi dipicu karena adanya aktivitas sesar aktif dengan mekanisme geser atau mendatar (strike-slip) di Laut Jawa. Gempa tersebut dikatakan tidak hanya memberikan dampak di Pulau Bawean, namun juga beberapa daerah di Jawa Timur.
“Dampak gempa juga dirasakan di Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Bojonegoro, Pamekasan Madura, dan Banjarbaru. Namun alhamdulillah, berdasarkan hasil Analisa BMKG jenis gempa yang terjadi tidak berpotensi tsunami,” tambah Miko.
Sebagai informasi, jumlah kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (Program JKN) di Kabupaten Gresik sampai dengan April 2024 1.318.286 jiwa dengan rincian segmen Penerima Bantuan Iuran Anggaran Pemerintah Belanja Negara (PBI APBD) 541.893 jiwa, segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) 352.380 JIWA, segmen PBI Anggaran Pemerintah Belanja Daerah (PBI APBD) 245.018 jiwa, Segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) 147.513 jiwa dan segmen Bukan Pekerja (BP) 22.482 jiwa.
Editor : Achmad Bisri






