Washington telah lama menuduh China menutup mata terhadap perdagangan fentanil, sementara pemerintah Presiden Xi Jinping membantah tuduhan tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Beijing juga memperingatkan Washington untuk berhenti menjelek-jelekkan dan menyalahkan, meskipun AS mengklaim ada ruang untuk kemajuan dalam masalah tersebut.

Analis memperingatkan bahwa kemungkinan tarif kembali berlaku setelah 90 hari akan menambah ketidakpastian di pasar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Pengurangan tarif lebih lanjut akan sulit dan risiko eskalasi baru tetap ada,” kata Kepala Ekonom di The Economist Intelligence Unit, Yue Su.

Perselisihan tarif yang berkepanjangan ini telah memberikan dampak signifikan pada perusahaan-perusahaan AS yang bergantung pada manufaktur di China.

Meskipun de-eskalasi sementara diharapkan dapat meredakan ketegangan, pejabat Beijing mengakui bahwa ekonomi China juga terpengaruh oleh ketidakpastian perdagangan, di tengah krisis properti yang berkepanjangan dan belanja konsumen yang lesu.

“Kedua belah pihak telah mengalami banyak kesulitan ekonomi dan mereka masih dapat bertahan sedikit lebih lama lagi,” ungkap Dylan Loh, asisten profesor di Universitas Teknologi Nanyang Singapura.

Kesepakatan ini menjadi langkah penting dalam upaya kedua negara untuk menemukan jalan keluar dari kebuntuan perdagangan yang telah berlangsung lama.(*)

 

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2