Dengan masih terdeteksinya aktivitas vulkanik, Gunung Anak Krakatau masih memiliki potensi untuk kembali mengalami erupsi. Pemantauan terhadap perkembangan aktivitas gunung api pun terus dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Sementara itu, sebaran abu vulkanik disebut mulai mengalami penurunan. Kendati demikian, masyarakat di wilayah yang terdampak tetap diminta mewaspadai dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh paparan abu vulkanik.
Abu vulkanik, terutama partikel berukuran halus, dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. Paparan dapat memicu keluhan seperti mata terasa perih, batuk, hingga gangguan pernapasan.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak disarankan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Aktivitas di luar rumah juga sebaiknya dibatasi apabila konsentrasi abu masih cukup terasa di lingkungan sekitar.
Selain memantau aktivitas vulkanik, pemantauan kondisi laut di sekitar kawasan Krakatau juga tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan yang dapat berkaitan dengan potensi tsunami.
Pemantauan muka air laut dilakukan menggunakan perangkat yang menjadi bagian dari sistem peringatan dini tsunami. Pengawasan tersebut dilakukan secara kolaboratif oleh sejumlah pihak terkait, termasuk BMKG dan PVMBG.
Dini mengatakan, berdasarkan data perangkat pemantauan sejak Jumat (4/9/2026), belum terlihat adanya anomali muka air laut yang menunjukkan ancaman tsunami.
“Namun, dari hasil pengamatan perangkat tersebut sejak Jumat 4 September itu tidak terlihat adanya anomali atau ancaman tsunami,” ujar Dini.
Meski belum ditemukan indikasi anomali, pemantauan tetap dilakukan secara berkelanjutan. Langkah tersebut diperlukan mengingat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dan kondisi gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.
Masyarakat di sekitar wilayah terdampak diimbau mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BMKG, dan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga kini masih menjadi perhatian karena adanya indikasi aktivitas di dalam tubuh gunung. Dengan kondisi tersebut, kemungkinan terjadinya erupsi lanjutan tetap perlu diantisipasi.





