“Penggabungan STITAF dengan Universitas Billfath, bukan saja dalam rangka efesiensi. Lebih dari itu, cerminan impian dalam mensinergikan ilmu-ilmu agama dengan saintek. FAI adalah fakultas yang akan memperdalam kajian-kajian ilmu agama, sedangkan di Billfath, terdapat 7 prodi yang bergerak dalam dunia saintek,” jelasnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menurutnya pertemuan ini sangat indah, karena dosen dan mahasiswa FAI dapat melakukan interaksi, komunikasi dan diskusi intensif dengan rekan-rekannya yang menekuni bidang saintek.

“Dengan sering melakukan diskusi dan kajian bersama, kita mengharapkan dapat mensinergikan dan menjembatani dua ilmu yang sering salah dipahami. Ilmu saintek dianggap ilmu duniawi, yang tidak ada dimensi keagamaannya. Sedangkan ilmu agama, dianggap bukan ilmu duniawi, semata-mata dianggap ilmu akherat yang akan mengantar ke surga. Buruk sangka keilmuan ini sangat tidak berguna, karena Alquran sendiri tidak pernah membedakan ilmu agama dengan ilmu umum. Bahkan menganggap semua ilmu berasal dari Allah,” ungkap Rektor.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Oleh karena prejudice keilmuan itu harus segera diakhiri. Rektor mengajak para ustad, jangan lagi alergi terhadap saintek. Begitu pula, para dosen saintek, janganlah menganggap ilmu agama itu hanya ilmu akherat. Karena kedua ilmu ini, sama-sama mengantar ke Surga. Dengan sering melakukan lintas disiplin ini, pihaknya berharap, ilmu saintek kembali memperoleh roh keagamaannya. Sedangkan ilmu agama, memperoleh pijakan empiris yang lebih rasional.

“Kedua disiplin ilmu ini akan saling menguatkan. Itulah yang terjadi saat para ulama masa Abasyiah dalam mengembangkan ilmu matematika, geometrik, biologi dan seterusnya,” katanya.

Diungkapkan Rektor bahwa batu pertama menuju ke sana sudah diletakkan. Sekarang ini, seluruh mahasiswa baru sudah diwajibkan untuk menguasai bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Karena di Billfath mempunyai program pembelajaran belajar bahasa Arab dan bahasa Inggris secara intensif selama 3 bulan.

Dengan menguasai bahasa Arab dan Inggris, kami berharap pada tahun kedua, mahasiswa billfath sudah mulai bisa membaca kitab. Dan nantinya kami berharap sudah bisa mengkaji kitabul jabar wal Muqabalah karya Alkhawarizmi, peletak dasar ilmu saintek modern. Dengan upaya ini, Rektor berharap sinergi keilmuan itu akan terjadi di Universitas Billfath.

“Saya membayangkan, suatu saat nanti, santri atau mahasiswa, menemukan kesenangan ketika nderes kitab Al Jabr wa al muqabbilah karya Al-Khawarizmi atau mengecek kembali kitab karya Al-Jahiz dan Al-Battani. Sementara itu, pesantren dan Universitas Billfath sudah dilengkapi laboratorium biologi, astronomi dan geometri untuk pengembangan sains yang lebih mutakhir. Para santri itu menemukan keasikan dalam laboratorium sambil nderes hafalan al-Quran atau bait-bait Alfiah ibnu Malik,” ungkapnya.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2