CIREBON, BeritaSiber.com – Upaya memperluas deteksi dini HIV masih menjadi pekerjaan penting bagi Pemerintah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon mencatat 195 kasus HIV terkonfirmasi positif dari 26.113 orang yang telah menjalani pemeriksaan.

Jumlah warga yang mengikuti skrining tersebut baru sekitar 54 persen dari target pemeriksaan sepanjang 2026. Dinkes Kabupaten Cirebon menetapkan sasaran tahunan sebanyak 48.466 orang, sehingga masih terdapat 22.353 sasaran yang belum menjalani pemeriksaan laboratorium.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cirebon, Mona Isabela Saragih, mengatakan perluasan skrining menjadi bagian penting dalam upaya menemukan kasus sedini mungkin.

Dengan mengetahui status HIV lebih cepat, masyarakat yang terdiagnosis positif dapat segera memperoleh penanganan dan layanan kesehatan sesuai kebutuhan.

“Temuan ini menunjukkan pemeriksaan HIV masih perlu diperluas. Semakin banyak masyarakat yang mengetahui status HIV-nya, semakin cepat pula penanganan dapat diberikan,” kata Mona, Jumat (11/9/2026).

Data Dinkes menunjukkan kasus HIV tidak hanya ditemukan pada kelompok sasaran tertentu. Dari keseluruhan temuan hingga Juli, jumlah kasus terbesar justru berasal dari populasi umum di luar kelompok sasaran khusus, yakni mencapai 73 kasus.

Sementara itu, pasien tuberkulosis (TBC) menjadi kelompok sasaran khusus dengan jumlah temuan HIV terbanyak. Sebanyak 3.179 pasien TBC telah menjalani pemeriksaan dan 52 orang di antaranya dinyatakan positif HIV.

Temuan cukup tinggi juga tercatat pada kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL). Dari 512 orang yang telah menjalani tes, sebanyak 51 orang terkonfirmasi positif.

Jumlah peserta pemeriksaan pada kelompok tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan sebanyak 2.044 orang.

Kondisi itu menjadi perhatian Dinkes karena temuan positif cukup tinggi di tengah cakupan pemeriksaan yang masih terbatas.

“Angka temuan pada kelompok LSL cukup tinggi, sementara jumlah yang sudah menjalani pemeriksaan masih relatif sedikit. Karena itu, akses skrining perlu terus diperkuat,” ujar Mona.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2