MADIUN, Beritasiber.com – Rumah duka Serda Ahmad Muzammil Farisa, 22, di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, dipenuhi pelayat, Jumat (11/9). Sejumlah karangan bunga berjejer di sekitar rumah keluarga. Kerabat, tetangga, hingga warga berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada prajurit yang bertugas sebagai Bintara Psikologi tersebut.
Jenazah Ahmad telah dimakamkan di kompleks pemakaman umum Desa Jonggrang pada Jumat dini hari. Peti jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 01.00. Sebelum prosesi pemakaman, peti sempat dibuka pihak keluarga untuk memastikan identitas jenazah sebagai Ahmad.
Ahmad merupakan anggota Dinas Psikologi TNI Angkatan Udara (Dispsiau), badan pelaksana pusat di bawah Mabes TNI AU (Mabesau). Prajurit berusia 22 tahun itu dilaporkan meninggal sekitar pukul 03.00, Kamis (10/9). Kematian Ahmad diduga berkaitan dengan kasus penganiayaan yang terjadi di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Ahmad adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Dia merupakan putra pasangan Toni Eko Prasetyo, Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Madiun, dan Retno Setyorini.
Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, menuturkan kabar mengenai kondisi Ahmad pertama kali diterima keluarga pada Kamis pagi. Informasi tersebut disampaikan rekan-rekan satu angkatan Ahmad yang berada di Jakarta. Namun, saat itu pihak keluarga belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai penyebab kematian.
“Kami ditelepon dari Jakarta melalui teman-teman angkatan almarhum anak saya pada Kamis pagi terkait kabar duka tersebut,” ujar Toni.
Keterangan awal yang diterima keluarga menyebut Ahmad meninggal karena kecelakaan yang berkaitan dengan proses pembinaan senior. Seiring waktu, pihak keluarga memperoleh informasi berbeda dari Dispsiau. Ahmad disebut meninggal akibat penganiayaan yang dilakukan senior.
“Awalnya informasi memang simpang siur karena kecelakaan sejak pembinaan senior. Namun dari Dinas Psikologi tempat anak kami bekerja, infonya penganiayaan yang dilakukan senior,” tuturnya.
Keluarga, lanjut Toni, meminta kasus kematian putranya tersebut dibuka secara terang dan ditangani hingga tuntas. Apalagi Ahmad baru sekitar dua tahun menjalani tugas di lingkungan Psikologi Mabes AU.





