“Kami keluarga yang merasa kehilangan sekali. Anak saya baru dua tahun dinas di Psikologi Mabes AU. Harapan kami bisa benar-benar mendapatkan hak dan keadilan,” tegasnya.

Toni juga menyebut keluarga mendapat informasi bahwa seorang tersangka telah diamankan di Pusat Polisi Militer (Puspom). Kondisi itu membuat keluarga berharap proses hukum dilakukan secara transparan dan pelaku dijatuhi hukuman yang sepadan dengan perbuatannya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Karena kehilangan nyawa bagi saya sangat mutlak. Sudah ada tersangka yang ditahan di Puspom. Harapan kami benar-benar bisa diusut tuntas dan diproses seadil-adilnya. Hukum harus ditegakkan,” katanya.

Mengenai kondisi jenazah, Toni mengaku keluarga sempat melihat foto hasil visum. Dari foto tersebut, terlihat adanya luka pada bagian dagu serta lebam di area dada. Meski demikian, keluarga belum mengetahui secara lengkap hasil pemeriksaan lantaran belum menerima berita acara resmi.

“Sekilas dari foto yang kami terima dari visum memang ada luka di dagu dan dada lebam-lebam. Kami sendiri juga belum paham karena belum membaca berita acara secara resmi. Kami hanya mendapat rilis laporan penganiayaan,” ungkapnya.

Toni berharap kasus yang menimpa putra sulungnya mendapat perhatian serius dari jajaran pimpinan TNI hingga pemerintah pusat. Dia meminta proses penanganan tidak berhenti sebatas penetapan tersangka, melainkan mengungkap seluruh rangkaian peristiwa secara menyeluruh.

“Kami mohon kepada yang berwenang, baik melalui Panglima TNI, KASAU, maupun Presiden Prabowo Subianto, agar hal ini menjadi atensi khusus dan betul-betul diperhatikan,” pintanya.

Menurut Toni, kasus tersebut berkaitan dengan hilangnya nyawa manusia. Terlebih, korban merupakan anak pertamanya yang masih berusia 22 tahun. Karena itu, dia meminta seluruh pihak yang diduga terlibat diperiksa dan proses hukum berjalan tanpa pandang bulu.

“Harapan kami pelakunya bisa diusut tuntas dan dihukum seberat-beratnya, setimpal dengan perbuatannya,” pungkasnya.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2