“Kami pastikan setiap kontribusi mereka dihargai. Upah diberikan secara langsung agar mereka merasa diberdayakan dan dihargai. Ini bagian dari proses pemulihan rasa percaya diri dan motivasi hidup mereka,” ujarnya.
Menariknya, sebagian hasil panen padi serta ikan lele dan patin juga dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dapur umum Lapas, sehingga manfaatnya langsung dirasakan oleh warga binaan.
Lapas Kelas IIB Lamongan juga menjalin kerja sama dengan beberapa mitra perusahaan untuk penyediaan bahan baku, serta menggelar kegiatan sosial yang berfokus pada kesehatan petugas dan warga binaan. Hal ini semakin memperkuat posisi Lapas sebagai lembaga pemasyarakatan yang modern, inklusif, dan berorientasi pada pembinaan menyeluruh.
“Kami tidak hanya bicara soal pembinaan, tapi juga kualitas hidup. Setiap langkah adalah bagian dari rehabilitasi yang berkelanjutan,” tegas Heri.
Keberhasilan panen raya ini membuktikan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang untuk tumbuh, belajar, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan negara.
Lapas Kelas IIB Lamongan akan terus mengembangkan program SAE sebagai model pembinaan inovatif yang dapat direplikasi di berbagai wilayah di Indonesia.(Bs).





