“Kami ingin memastikan bahan baku benar-benar terkontrol. Kambing yang diolah merupakan hasil ternak sendiri, sehingga kesegaran dan kualitas daging bisa terjamin,” ujar Tommi, Selasa (3/2/2026).
Selain kualitas rasa, harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau bagi semua kalangan. Pengunjung dapat menikmati menu lauk sederhana mulai Rp5.000, tongseng Rp15.000, serta sate klatak dan menu olahan utama lainnya dengan harga Rp20.000 hingga Rp25.000. Pendopo Literasi juga menyediakan paket makan bersama, mulai dari Rp75.000 untuk dua orang, Rp150.000 untuk empat orang, hingga Rp300.000 untuk delapan orang.
Lebih dari sekadar tempat makan, Pendopo Literasi merupakan bagian dari upaya pengembangan potensi desa berbasis pendidikan dan ekonomi. Dengan latar belakang sebagai Magister Pendidikan, Tommi menginisiasi integrasi antara sektor peternakan, pertanian, kuliner, dan wisata edukasi. Konsep ini sejalan dengan kebutuhan pembelajaran luar kelas atau outclass yang kini banyak diterapkan oleh lembaga pendidikan.
“Awalnya prosesnya tidak mudah, banyak tantangan. Namun, dengan kolaborasi dan pendampingan, warga mulai melihat peluang dan ikut terlibat,” jelasnya.
Keberadaan Pendopo Literasi kini tidak hanya menjadi destinasi wisata kuliner, tetapi juga contoh nyata bagaimana literasi dan inovasi mampu menggerakkan ekonomi desa secara berkelanjutan di Kabupaten Lamongan.






