Ia juga mengajak para WBP untuk menjadikan pengalaman menjalani masa pidana sebagai bahan introspeksi diri. Menurutnya, setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik, selama memiliki niat dan tekad yang kuat.
“Idulfitri adalah awal baru. Jangan jadikan keterbatasan sebagai penghalang untuk berubah. Justru dari sini kita bisa memulai langkah menuju kehidupan yang lebih baik,” pesannya di hadapan jamaah.
Selain itu, pentingnya menjaga silaturahmi dan saling memaafkan juga menjadi bagian dari pesan yang disampaikan. Nilai-nilai tersebut dinilai sebagai esensi utama dari perayaan Idulfitri yang sesungguhnya.
Usai pelaksanaan salat, suasana haru tak terhindarkan ketika para WBP diberi kesempatan untuk bersalaman dengan keluarga mereka. Tangis bahagia dan rasa rindu yang terobati menjadi pemandangan yang menyentuh. Momen tersebut menjadi bukti bahwa hubungan kekeluargaan tetap terjaga meski terpisah oleh ruang dan waktu.
Pihak Lapas Lamongan menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan berkelanjutan yang bertujuan membentuk karakter warga binaan menjadi lebih baik. Dengan pendekatan yang humanis, diharapkan para WBP dapat kembali ke masyarakat sebagai individu yang bertanggung jawab dan produktif.
Melalui pelaksanaan Salat Idulfitri ini, diharapkan nilai-nilai keimanan, kebersamaan, dan semangat memperbaiki diri dapat terus tumbuh di dalam diri setiap warga binaan, sebagai bekal menjalani kehidupan setelah masa pembinaan berakhir.






