BERITASIBER.COM — Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil langkah strategis yang komprehensif guna mengakselerasi pencapaian swasembada susu nasional. Di tengah tren lonjakan konsumsi domestik, termasuk sokongan masif dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah menegaskan bahwa pembangunan sektor persusuan tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Pendekatan kolaboratif lintas sektor kini menjadi pilar utama untuk menyatukan seluruh rantai pasok industri dari hulu hingga hilir.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyampaikan bahwa akselerasi populasi sapi perah nasional memerlukan gotong royong nyata dari seluruh pemangku kepentingan.
Dalam rapat koordinasi strategis yang digelar di Kantor Kementan, Jakarta, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, asosiasi, koperasi susu, industri pengolah susu (IPS), perusahaan peternakan swasta, lembaga keuangan, hingga peternak rakyat secara langsung.
“Kami ingin membangun ekosistem persusuan nasional yang kokoh dan terintegrasi. Target peningkatan populasi sapi perah merupakan misi kolektif yang menuntut keterlibatan aktif semua pihak demi menciptakan fondasi industri yang berkelanjutan,” ujar Agung di hadapan para pelaku usaha persusuan.
Sebagai stimulus fiskal yang pro-peternak, pemerintah saat ini tengah mematangkan instrumen kebijakan pembiayaan lunak. Usulan inovatif tersebut mencakup fasilitas kredit dengan suku bunga 0 persen, masa tenggang atau grace period pembayaran selama dua tahun, tenor pinjaman hingga tujuh tahun, serta plafon pembiayaan yang fleksibel sesuai skala bisnis peternak.
Kebijakan ini dirancang khusus untuk mengatasi hambatan klasik peternak rakyat dalam mengakses permodalan, sehingga mereka dapat memperbesar skala usahanya secara mandiri dan berkelanjutan.
Selain pembiayaan, tantangan ketersediaan populasi ternak juga disikapi secara taktis melalui diversifikasi negara asal impor. Kementan membuka keran alternatif sumber indukan sapi perah produktif berkualitas tinggi dari berbagai negara sahabat, seperti Brasil, Chili, Meksiko, hingga Selandia Baru.
Langkah diversifikasi ini diambil guna menghindari ketergantungan pada satu pasar tunggal, mengamankan pasokan di tengah ketatnya kompetisi global, serta memastikan percepatan target populasi tercapai tepat waktu.





