Selain rasa masam, muncul isu di lapangan yang menyebutkan bahwa makanan tersebut mengeluarkan aroma tidak sedap seperti bau rokok. Kendati demikian, Dinkes DKI meminta publik untuk bersabar hingga hasil uji laboratorium resmi keluar, yang dijadwalkan akan dirilis pada Selasa pekan depan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Fakta mengejutkan terungkap di tengah investigasi. Unit penyedia makanan, yakni Satuan Pelayanan Makanan Bergizi (SPPG) Pulogebang, diketahui merupakan unit yang tergolong baru beroperasi sejak akhir Maret 2026. Berdasarkan pemeriksaan, SPPG tersebut ternyata masih dalam proses pemenuhan persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Ketiadaan sertifikat ini menjadi poin krusial yang dipertanyakan banyak pihak mengenai standar keamanan pangan yang diterapkan. Ani Ruspitawati menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan inspeksi kesehatan lingkungan pasca-kejadian.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Saat ini SPPG dalam proses perbaikan sarana serta pelatihan bagi para penjamah makanannya agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tambahnya.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi pengelola program MBG di Jakarta. Transparansi hasil uji laboratorium pekan depan akan menjadi kunci untuk menentukan apakah insiden ini murni karena kontaminasi bakteri pada bahan pangan atau adanya kelalaian prosedur dalam pengolahan makanan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diharapkan tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga menjamin bahwa setiap suplier makanan sekolah memiliki kualifikasi ketat dan sertifikasi kesehatan yang lengkap sebelum mendistribusikan ribuan paket makanan ke institusi pendidikan.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2