Beberapa teknologi yang diperkenalkan antara lain alat penabur pupuk, alat penangkap hama padi, sistem pakan ikan otomatis, instalasi hidroponik, silase jagung, serta pakan ternak berbahan sekam padi.

Berbagai alat dan produk tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi serta kebutuhan masyarakat di lokasi KKN. Kehadiran teknologi tepat guna diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi kegiatan produksi sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih optimal.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Selain bidang lingkungan dan pertanian, mahasiswa juga mengembangkan inovasi di sektor pangan melalui kategori Creative Food Innovation Makanan Kreatif Berbasis Potensi Lokal.

Produk yang ditampilkan di antaranya wedang rempah, teh herbal daun sukun, gummy sawo atau SAMINA’O, serta berbagai produk olahan berbahan komoditas lokal.

Pengembangan pangan berbasis potensi desa tersebut tidak hanya menitikberatkan pada produk, tetapi juga pada inovasi pengemasan dan peningkatan nilai tambah. Dengan pendekatan tersebut, komoditas yang selama ini memiliki nilai ekonomi terbatas dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih menarik dan berpotensi masuk ke pasar yang lebih luas.

Rektor Unisda Lamongan, Muhammad Hafidh Nashrullah, S.E., M.M., mengapresiasi kreativitas mahasiswa yang mampu mengimplementasikan pengetahuan akademik menjadi karya yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Menurut Hafidh, KKN menjadi salah satu ruang penting bagi mahasiswa untuk menguji sekaligus menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dalam menghadapi persoalan nyata di lapangan.

“Kami bangga melihat kreativitas mahasiswa yang mampu menghadirkan berbagai inovasi berbasis kebutuhan desa. KKN menjadi ruang belajar yang mempertemukan teori dengan realitas lapangan, sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” katanya.

Ia berharap inovasi yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti setelah kegiatan KKN berakhir. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, masyarakat, dan pelaku usaha diperlukan agar produk yang telah dirintis dapat terus dikembangkan.

Penutupan KKN 2026 pun tidak sekadar menjadi seremoni berakhirnya masa pengabdian mahasiswa. Gelar karya tersebut menjadi gambaran bahwa proses pengabdian dapat melahirkan berbagai gagasan yang berpotensi dikembangkan menjadi solusi jangka panjang.

Dengan pendampingan berkelanjutan, sejumlah inovasi lingkungan, teknologi tepat guna, hingga produk pangan lokal tersebut diharapkan mampu berkembang menjadi produk unggulan desa maupun embrio usaha baru.

Melalui semangat “Mahasiswa Berkarya, Desa Berdaya”, Unisda Lamongan menegaskan bahwa KKN bukan hanya menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga bagian dari upaya perguruan tinggi untuk mendorong masyarakat desa menjadi lebih mandiri, produktif, inovatif, dan berkelanjutan.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2