“Nantinya, hanya outing class yang bersifat edukasi, seperti ke museum atau perpustakaan, yang diizinkan. Untuk kegiatan ke tempat wisata tidak akan kami perbolehkan,” tegas Ali.
Sosok yang akrab disapa Mas Pj tersebut juga menginstruksikan seluruh sekolah, baik SD maupun SMP di Kota Mojokerto, untuk menggelar doa bersama dan tahlil. Kegiatan ini sebagai bentuk belasungkawa dan ikut mendokan korban meninggal dunia.
“Kejadian ini menjadi pembelajaran penting bagi kita semua. Ke depan, Pemkot Mojokerto akan mengambil langkah-langkah preventif agar hal serupa tidak terulang kembali,” pungkas Ali Kuncoro.
Seperti diketahui, sebanyak 257 siswa kelas 7 dan 8 serta 16 guru pendamping SMPN 7 Kota Mojokerto mengadakan kegiatan outing class ke Pantai Drini, Gunungkidul, Yogyakarta.
Rombongan berangkat Senin (27/1/2025) malam dan tiba di RM Hutama Pantai Drini pada Selasa (28/1/2025) sekitar pukul 04.00 WIB.
Selanjutnya sekitar pukul 6.00 pagi, rombongan bermain di Pantai Drini. Tiga puluh menit kemudian, tim SAR menerima laporan ada wisatawan hanyut terseret ombak sampai ke tengah. Sembilan korban sudah terevakuasi dan dibawa ke RSUD Saptosari.
Selang beberapa menit kemudian, tim SAR menemukan tiga siswa lagi, tetapi kondisinya sudah meninggal dunia. Sementara 1 siswa sampai berita ini ditulis masih dalam pencarian.
Dari total 257 siswa yang ikut dalam rombongan, 13 orang terseret gelombang laut selatan. Sebanyak 9 siswa berhasil diselamatkan, tetapi dua di antaranya dalam kondisi kritis.
Sementara tiga siswa ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, dan 1 siswa masih dalam pencarian. Pemerintah Kota Mojokerto terus berkoordinasi dengan tim SAR di lokasi kejadian untuk memastikan proses pencarian dan penanganan korban berjalan maksimal.
>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.Com





