Hal ini dapat menyebabkan penurunan penjualan bagi UMKM lokal yang belum siap menghadapi persaingan dengan produk-produk impor.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

b. Ketergantungan pada Platform Luar Negeri

Ketergantungan yang terlalu besar pada platform seperti Temu juga bisa menjadi bumerang bagi UMKM Indonesia. Jika UMKM terlalu bergantung pada satu platform untuk menjual produk mereka, risiko yang dihadapi menjadi lebih tinggi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Misalnya, perubahan kebijakan atau penutupan akses terhadap pasar tertentu oleh platform bisa secara signifikan mengganggu operasi bisnis UMKM tersebut.

Diversifikasi saluran penjualan menjadi kunci untuk mengurangi risiko ini.

c. Tekanan Harga dan Margin Keuntungan yang Semakin Kecil

Dengan persaingan yang semakin ketat, UMKM sering kali harus menurunkan harga jual mereka untuk tetap kompetitif. Meskipun ini mungkin meningkatkan volume penjualan, namun dapat mengakibatkan penurunan margin keuntungan.

Bagi UMKM yang memiliki modal terbatas, tekanan ini bisa menjadi beban berat dan mempengaruhi kelangsungan usaha mereka dalam jangka panjang.

d. Hambatan dalam Memenuhi Standar Internasional

UMKM Indonesia yang ingin bersaing di pasar internasional melalui Temu harus memenuhi berbagai standar yang mungkin belum terbiasa mereka terapkan.

Standar kualitas, sertifikasi, dan regulasi impor yang ketat di berbagai negara tujuan ekspor bisa menjadi hambatan besar bagi UMKM yang belum siap. Proses untuk memenuhi standar ini juga sering kali membutuhkan investasi tambahan dalam hal waktu, biaya, dan sumber daya yang tidak semua UMKM mampu tanggung.

3. Menghadapi Tantangan dan Memanfaatkan Peluang

Untuk memaksimalkan manfaat dari Temu dan meminimalkan dampak negatifnya, UMKM Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis.

Pertama, pemerintah dan lembaga terkait harus memperkuat program edukasi dan pelatihan bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing mereka di pasar internasional. Pelatihan ini bisa mencakup aspek-aspek seperti manajemen bisnis, pemasaran digital, pemenuhan standar internasional, dan strategi ekspor.

Kedua, kolaborasi antar-UMKM dapat menjadi strategi efektif untuk menghadapi tantangan ini. Dengan membentuk aliansi atau konsorsium, UMKM dapat berbagi sumber daya, pengetahuan, dan jaringan pasar, sehingga mereka dapat bersaing lebih efektif di pasar global.

Selain itu, UMKM juga dapat mempertimbangkan untuk memanfaatkan berbagai saluran distribusi lain di luar platform seperti Temu untuk mengurangi risiko ketergantungan.

Pemerintah juga perlu berperan aktif dalam melindungi UMKM dari dampak negatif perdagangan lintas batas ini. Kebijakan yang mendukung UMKM, seperti insentif pajak, bantuan teknis, dan akses terhadap pembiayaan yang lebih mudah, bisa menjadi faktor penentu dalam memastikan UMKM mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan global.

Kehadiran Temu sebagai platform e-commerce lintas batas dari China membawa peluang sekaligus tantangan bagi UMKM Indonesia.

Akses pasar global, inovasi, efisiensi logistik, dan peningkatan kapasitas digital adalah beberapa manfaat yang dapat dimanfaatkan oleh UMKM. Namun, ancaman terhadap pasar lokal, ketergantungan pada platform luar negeri, tekanan harga, dan hambatan standar internasional merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi.

Dengan strategi yang tepat, dukungan pemerintah, dan kerjasama antar-UMKM, Indonesia dapat mengubah tantangan ini menjadi peluang untuk memperkuat daya saing UMKM di pasar global.

Penulis : DR abid muhtarom,SE.,MSE (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA / Wakil ketua ANSOR Kabupaten Lamongan)

Editor : Achmad Bisri

>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.comĀ 

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2