Siswa dan wali murid mengeluhkan komposisi menu “basah” seperti bubur, burger, dan telur rebus yang diberikan sekaligus. Menu tersebut dinilai tidak mungkin disimpan untuk dikonsumsi pada hari Jumat atau Sabtu karena risiko tinggi basi dan kontaminasi bakteri.
“Menu seperti bubur dan burger harus dimakan hari ini. Kalau disimpan untuk besok pasti sudah tidak layak. Padahal ini jatah untuk tiga hari,” keluh salah satu orang tua siswa.
Kinerja SPPG Blawi dalam hal logistik juga dianggap kurang maksimal. Di beberapa sekolah, bantuan makanan baru tiba saat jam pulang sekolah telah tiba. Akibatnya, siswa harus menunggu lama hanya untuk menerima jatah yang kualitas ketahanannya diragukan tersebut.
“Kemarin datangnya sampai jam 1 siang, kita disuruh balik ke sekolah lagi untuk ambil MBG,” ungkap siswa.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG Blawi belum memberikan pernyataan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui pesan singkat WhatsApp kepada Kepala SPPG maupun Asisten Lapangan (Aslap) terkait belum mendapatkan respons.





