BERITASIBER.COM | KEDIRI – Simpang Lima Gumul (SLG) telah menjelma menjadi salah satu landmark paling dikenal di Jawa Timur. Monumen yang berdiri megah di Kabupaten Kediri ini kerap disebut sebagai “Arc de Triomphe-nya Indonesia” karena desainnya yang mengadopsi gaya arsitektur klasik Eropa.

Pembangunan SLG dimulai pada 2003 dan diresmikan lima tahun kemudian atas gagasan Bupati Kediri saat itu, Sutrisno. Dengan tinggi sekitar 25 meter dan luas bangunan mencapai 804 meter persegi, monumen ini menjadi penanda visual yang kuat bagi kawasan sekitarnya sekaligus simbol transformasi wilayah Kediri.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Keunikan SLG tidak hanya terletak pada bentuknya. Relief-relief yang menghiasi dinding monumen memuat kisah sejarah, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Kediri. Perpaduan arsitektur monumental dengan ornamen lokal tersebut menjadikan SLG sebagai ruang narasi yang merepresentasikan identitas daerah.

Nama Simpang Lima Gumul sendiri merujuk pada pertemuan lima jalur utama yang menghubungkan berbagai kawasan strategis di Kediri. Filosofi ini merefleksikan semangat keterhubungan dan persatuan, sekaligus mencerminkan arah pembangunan daerah yang menempatkan Kediri sebagai simpul aktivitas ekonomi dan budaya.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2