Lebih lanjut, perwira pertama kepolisian dengan balok dua di pundak tersebut memaparkan bahwa tantangan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di era modern kini telah merambah hingga ke tingkat desa. Potensi permasalahan sosial seperti penyebaran berita bohong (hoaks) di media sosial, bahaya paham radikalisme, hingga kenakalan remaja yang melibatkan usia produktif memerlukan penanganan komprehensif.

Menurutnya, pendekatan kultural dan keagamaan yang dimotori oleh MUI desa merupakan benteng pertahanan terbaik untuk menangkal berbagai bentuk ancaman disintegrasi sosial tersebut sejak dini.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Kami dari jajaran kepolisian sektor tidak akan bisa bekerja secara maksimal sendirian dalam menciptakan situasi wilayah yang aman, tertib, dan kondusif tanpa adanya dukungan aktif dari para tokoh agama di desa. Peran aktif, dakwah yang menyejukkan, serta edukasi keagamaan yang masif dari para pengurus MUI desa yang baru dikukuhkan ini sangat kami nantikan di lapangan,” tambahnya.

Kapolsek Glagah juga berpesan agar para pengurus MUI desa yang baru dikukuhkan dapat senantiasa bersinergi dengan Bhabinkamtibmas dan Babinsa di desanya masing-masing. Melalui komunikasi yang intensif antara tiga pilar desa dan para ulama, segala potensi konflik sosial atau permasalahan warga diyakini dapat diselesaikan secara musyawarah mufakat (problem solving).

“Mari bersama-sama kita jaga wilayah Kecamatan Glagah mulai dari tingkat desa agar senantiasa aman, damai, rukun, dan religius. Sinergi antara ulama dan umara ini adalah kunci utama tegaknya persatuan bangsa di tingkat lokal,” pungkas Kapolsek Glagah IPTU Miftachul Choir, S.H.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2