“Jika budaya tidak dirawat, ia akan hilang ditelan perubahan zaman. Karena itu, saya bangga kegiatan yang menghidupkan nilai budaya sekaligus menumbuhkan semangat inklusif terus digelar,” ujarnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pembukaan pameran berlangsung meriah dengan kehadiran Chintya Riza (istri Wamen), fotografer kenamaan Darwis Triadi, dan Sendy Wijaya. Acara semakin semarak berkat penampilan tari kreasi Betawi Tari Gijak Gijik oleh Hamdan dan Aulia dari SLB 2 Jakarta, serta kolaborasi musik yang menghadirkan penyanyi difabel Moreno (SLB Pembina Lebak Bulus Jakarta) bernyanyi bersama Giring membawakan lagu “Laskar Pelangi”.

Salah satu daya tarik utama pada pameran kali ini adalah kolaborasi antara pelukis difabel dan seniman nasional, di antaranya Jan Praba, Ireng Halimun, Syakieb Sungkar, dan seniman lainnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Kolaborasi ini adalah bentuk penghormatan kepada para perupa disabilitas. Mereka memiliki potensi dan kualitas artistik yang sejajar,” jelas Yuli.

Yuli yang selama ini aktif membina murid-murid disabilitas berharap pameran semacam ini dapat berlangsung berkesinambungan agar membuka ruang profesional bagi seniman difabel.

“Dengan kegiatan berkelanjutan, eksistensi mereka sebagai pelukis akan tumbuh dan dihargai secara profesional,” tegasnya.

Pameran Art Spectrum 20’20 menjadi wadah perayaan seni, pengakuan terhadap talenta difabel, sekaligus pengingat bahwa inklusivitas merupakan elemen penting dalam ekosistem kebudayaan Indonesia.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2