“Pada fase Makkah selama 13 tahun, fokus dakwah adalah pada materi keimanan dan akhlak. Kemudian, ketika hijrah ke Madinah, dakwah berkembang mencakup aspek perdagangan dan akhlak, menunjukkan adaptasi terhadap kebutuhan zaman,” terangnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Muhlisin juga mengaitkan konsep Deep Learning dengan sejarah ulama terdahulu, mencontohkan kisah Imam Syafi’i dan muridnya, Ahmad bin Hanbal. Ia menjelaskan bahwa hakikat Deep Learning telah dipraktikkan sejak zaman ulama, di mana pemahaman mendalam dan penguasaan ilmu dilakukan secara komprehensif.

“Islam adalah agama Allah yang akan selalu dijaga oleh-Nya,” tegas Muhlisin.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Dan GTK memiliki peran penting untuk ikut serta menjaga agama Allah melalui pendidikan.” imbuhnya.

Ia juga menyoroti relevansi Qur’an Surat An-Nisa ayat 28 yang mengingatkan agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Oleh karena itu, perubahan kurikulum menjadi sebuah keniscayaan agar sesuai dengan tuntutan zaman.

Kepala Kemenag Lamongan ini memaparkan kilas balik perjalanan kurikulum pendidikan di Indonesia, mulai dari Kurikulum Rencana Pelajaran pada tahun 1947 hingga Kurikulum Cinta yang diperkenalkan pada tahun 2025.

“Kementerian Agama menghadirkan Kurikulum Cinta, karena cinta sekarang sudah langkah,” pungkas Bapak Muhlisin, menegaskan filosofi di balik kurikulum terbaru ini.

Workshop ini diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi para guru MTsN 2 Lamongan untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan cinta, akhlak mulia, dan pemahaman mendalam pada diri peserta didik.(Bs).

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2