Sejumlah komentar publik di media sosial juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa program MBG hanya sekadar formalitas, tanpa pengawasan yang ketat terhadap pelaksana di lapangan.

Program MBG sendiri merupakan salah satu program unggulan residen Prabowo dalam upaya menekan angka stunting dan malnutrisi, serta meningkatkan konsentrasi belajar siswa di jenjang pendidikan dasar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Namun, jika pelaksanaan di lapangan tidak sesuai dengan harapan, maka program ini dikhawatirkan akan kehilangan esensi utamanya.

“Program MBG ini sangat bagus, tapi harus diawasi secara berkala. Jangan sampai disalahgunakan oleh oknum penyedia makanan yang hanya mengejar untung,” tambah Hilal.

Menurut ahli gizi, menu seimbang untuk anak usia sekolah idealnya mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, dan buah. Dengan anggaran Rp10.000 per anak, penyedia makanan sebenarnya masih bisa mengolah menu sederhana namun bergizi jika dilakukan dengan manajemen bahan dan komitmen pelayanan yang baik.

“Kejadian di Tikung menjadi alarm penting bahwa standar dan pengawasan teknis pelaksanaan program MBG harus diperketat. Jangan sampai program yang seharusnya menjadi solusi justru menjadi polemik baru yang merugikan siswa,” ungkapnya.

Seperti diketahui, sebuah foto yang memperlihatkan menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) sempat beredar di Media Sosial (Medsos). Unggahan tersebut menuai berbagai komentar karena komposisi yang kurang layak dan jauh dari nilai standar gizi yang diharapkan. Sementara lokasi dapur SPPG MBG nya diduga berada di Desa Bakalan Pule, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan. (Bs).

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2