Bantuan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus membuka peluang pemanfaatan lahan pertanian yang selama ini belum optimal.
Intervensi pemerintah tidak berhenti pada persoalan pangan jangka pendek. Kementan juga menyiapkan strategi jangka panjang dengan mengembangkan komoditas yang dinilai sesuai dengan karakteristik agroklimat Alor.
Tiga komoditas utama yang menjadi fokus adalah kelapa, kakao, dan jambu mete. Komoditas tersebut dipandang memiliki potensi ekonomi sekaligus peluang pasar yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat.
Pemerintah menargetkan sedikitnya 10.000 hektare lahan produktif dikembangkan di berbagai wilayah Alor. Konsep pengembangan tersebut diarahkan berbasis keluarga petani sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Dengan asumsi satu hektare dikelola oleh satu keluarga, program tersebut berpotensi menciptakan sumber penghidupan bagi sekitar 10.000 keluarga. Jika setiap keluarga terdiri dari rata-rata empat anggota, maka sekitar 40.000 jiwa berpotensi memperoleh dampak ekonomi langsung dari pengembangan lahan tersebut.
“Target kita minimal 10 ribu hektare. Jika satu hektare dikelola oleh satu keluarga, ada 10 ribu kepala keluarga yang mendapatkan sumber penghasilan tetap. Dengan asumsi satu keluarga terdiri dari empat jiwa, maka ada sekitar 40 ribu masyarakat yang langsung merasakan kesejahteraannya,” ujar Amran.
Untuk memastikan program berjalan hingga menghasilkan, pemerintah tidak hanya menyediakan bibit. Anggaran pemerintah juga diarahkan untuk mendukung proses penanaman, sementara tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) akan dilibatkan dalam pendampingan petani mulai dari tahap awal hingga masa panen.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghindari pola bantuan yang hanya berhenti pada distribusi sarana produksi. Pemerintah ingin memastikan intervensi pertanian menghasilkan produktivitas, pendapatan, dan pada akhirnya memperbaiki kesejahteraan keluarga petani.
Kunjungan Mentan ke Alor sekaligus menunjukkan perubahan pola respons pemerintah terhadap persoalan di daerah. Aspirasi yang muncul dari ruang akademik diterjemahkan menjadi agenda kebijakan dan intervensi langsung di lapangan.
Dengan kombinasi stabilisasi harga pangan, bantuan sarana produksi, penguatan infrastruktur pertanian, serta pengembangan komoditas perkebunan bernilai ekonomi, Alor diarahkan untuk tidak hanya menjadi daerah penerima program, tetapi berkembang menjadi salah satu basis pertanian yang mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Bagi pemerintah, keberhasilan program tersebut pada akhirnya tidak hanya diukur dari luas lahan yang dibuka atau jumlah bantuan yang disalurkan, tetapi dari seberapa besar sektor pertanian mampu menciptakan lapangan penghidupan dan menurunkan tingkat kemiskinan masyarakat Alor secara berkelanjutan.





