BERITASIBER.COM | GRESIK – Dalam upaya menguatkan fondasi bisnis dan membawa kearifan lokal ke tingkat yang lebih profesional, puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) penghasil Kue Pudak khas Gresik mengikuti program Edukasi Pemahaman Pengelolaan Keuangan Pada UMKM Kue Pudak Gresik yang digelar pada Kamis, 12 Juni 2025.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kabupaten Gresik dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari universitas setempat, sebagai bentuk sinergi antara pemerintah daerah dan kalangan akademisi dalam mendorong penguatan ekonomi rakyat.

Kue Pudak, jajanan tradisional berbahan dasar tepung beras, gula merah, dan santan yang dibungkus daun jambu, telah lama menjadi ikon kuliner Gresik. Produk ini tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga nilai historis dan budaya yang melekat kuat di tengah masyarakat. Permintaannya relatif stabil, bahkan meningkat signifikan pada momen-momen tertentu seperti hari raya dan musim liburan. Namun, di balik potensi tersebut, masih banyak perajin yang menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan keuangan usaha.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Selama ini, uang keluar-masuk sering dicampur dengan kebutuhan rumah tangga. Kami jual, dapat uang, lalu langsung dipakai untuk beli bahan lagi atau keperluan keluarga. Jadi nggak tahu persis untungnya berapa, atau sebenarnya bisnis ini sudah berkembang atau belum,” ungkap Ibu Siti, salah satu perajin Kue Pudak yang telah menekuni usaha ini selama 15 tahun.

Pengakuan tersebut mencerminkan kondisi umum UMKM tradisional yang masih mengandalkan kebiasaan lama tanpa pencatatan keuangan yang sistematis.

Melihat realitas tersebut, edukasi pengelolaan keuangan menjadi kebutuhan mendesak. Dalam kegiatan ini, Dr. Moh Syafik, S.E., M.Ak., selaku pemateri utama, menyampaikan materi secara aplikatif dan kontekstual, disesuaikan dengan kondisi riil UMKM Kue Pudak.

Ia menekankan bahwa pengelolaan keuangan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi utama untuk menjaga keberlanjutan usaha.

“Banyak UMKM sebenarnya produknya bagus dan pasarnya ada, tetapi tidak berkembang karena tidak tahu posisi keuangannya. Dengan pencatatan sederhana saja memisahkan uang pribadi dan uang usaha, mencatat pemasukan dan pengeluaran harian pelaku UMKM sudah selangkah lebih maju menuju usaha yang sehat,” jelas Dr. Moh Syafik di hadapan peserta.

Ia juga menambahkan bahwa laporan keuangan yang rapi akan memudahkan UMKM mengakses pembiayaan dari perbankan maupun program bantuan pemerintah.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2