BERITASIBER.COM | LAMONGAN — Tradisi lokal yang masih kuat di tengah masyarakat Kabupaten Lamongan kembali terlihat melalui tingginya angka pernikahan pada momen tertentu, khususnya saat Malam Songo di bulan Ramadan hingga awal bulan Syawal 1447 Hijriah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Fenomena ini menjadi potret menarik bagaimana nilai budaya dan kepercayaan lokal tetap memengaruhi kehidupan sosial masyarakat hingga saat ini.

Berdasarkan data dari Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, lonjakan jumlah pernikahan terjadi secara signifikan pada pertengahan hingga akhir Ramadan. Puncaknya tercatat pada 18 Maret 2026, di mana sebanyak 191 pasangan melangsungkan akad nikah dalam satu hari di berbagai kecamatan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Malam Songo, yang dikenal sebagai malam kesembilan terakhir di bulan Ramadan, menjadi waktu yang sangat diminati oleh masyarakat untuk menggelar pernikahan. Tradisi ini dipercaya membawa keberkahan bagi pasangan tanpa perlu melakukan perhitungan hari baik secara khusus. Tidak heran jika pada momen tersebut terjadi peningkatan drastis jumlah pernikahan.

Secara keseluruhan, jumlah pernikahan pada momentum Malam Songo tahun ini mencapai 301 pasangan yang tersebar di berbagai wilayah Lamongan. Kecamatan Babat mencatatkan angka tertinggi dengan 64 peristiwa pernikahan, disusul Kedungpring sebanyak 57 peristiwa, serta wilayah lain seperti Modo, Ngimbang, dan Sambeng yang juga menunjukkan angka signifikan.

Kondisi ini juga berdampak pada meningkatnya beban kerja Kantor Urusan Agama (KUA) di masing-masing kecamatan. Salah satu yang mencolok adalah KUA Kecamatan Kedungpring yang mampu melayani hingga 53 pasangan dalam satu hari. Para penghulu bahkan harus bekerja ekstra dengan jadwal padat untuk memastikan seluruh prosesi akad berjalan lancar.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2