Sejumlah langkah darurat turut dilakukan, mulai dari pengoperasian 92 SPBU di Denpasar dan Badung selama 24 jam, penambahan armada mobil tangki dari 90 unit menjadi lebih dari 100 unit, hingga pengoperasian depo utama sepanjang hari guna mempercepat distribusi ke masyarakat.
Dampak kelangkaan tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi. Para pengemudi jeep wisata di kawasan Kintamani mengaku kesulitan memperoleh BBM untuk mengantar wisatawan menuju destinasi Gunung Batur. Sementara itu, pengemudi ojek online menghadapi penurunan pendapatan karena waktu kerja mereka tersita untuk mencari SPBU yang masih menyediakan bahan bakar.
Keluhan serupa juga muncul dari sejumlah wilayah lain, seperti Gianyar, Klungkung, Buleleng, dan Bangli. Informasi mengenai SPBU yang kehabisan stok, antrean kendaraan, serta kondisi lalu lintas ramai dibagikan melalui media sosial, khususnya platform X.
Di media sosial, masyarakat menyuarakan kekecewaan terhadap panjangnya antrean dan dampak ekonomi yang ditimbulkan. Sebagian pengguna mempertanyakan efektivitas penanganan distribusi, sementara lainnya menilai pembelian berlebihan turut memperburuk keadaan. Foto, video, dan informasi mengenai ketersediaan BBM secara langsung juga menjadi bahan diskusi warga untuk mencari alternatif pengisian bahan bakar.
Gangguan pasokan ini menjadi perhatian karena Bali merupakan salah satu pusat pariwisata utama Indonesia. Jika distribusi tidak segera kembali stabil, kelangkaan BBM berpotensi menghambat mobilitas warga, meningkatkan biaya operasional usaha, dan mengganggu layanan wisata.
Pemerintah dan Pertamina kini dihadapkan pada tuntutan untuk memastikan distribusi berjalan lancar serta memberikan informasi yang transparan kepada masyarakat. Di tengah upaya pemulihan tersebut, warga diimbau tetap tenang, membeli BBM sesuai kebutuhan, dan mengikuti informasi resmi mengenai ketersediaan pasokan.





