BALI, BeritaSiber.com — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) melanda sejumlah wilayah di Bali, termasuk Denpasar, Kuta, dan Badung. Kondisi ini memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), bahkan dilaporkan mencapai dua kilometer, sehingga menyebabkan kemacetan dan menghambat aktivitas masyarakat.

Situasi tersebut turut menimbulkan kekhawatiran setelah beredar laporan mengenai pengendara yang mengalami pingsan akibat terlalu lama mengantre. Gangguan pasokan ini juga mulai dirasakan oleh sektor pariwisata, transportasi, serta para pekerja harian yang bergantung pada ketersediaan BBM untuk mencari nafkah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pemerintah Provinsi Bali menyebut keterlambatan distribusi kapal tanker sebagai salah satu faktor utama yang memicu kelangkaan. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh meningkatnya pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying, yang membuat permintaan di sejumlah SPBU melonjak.

Gubernur Bali, I Wayan Koster, meminta masyarakat tidak panik dan menegaskan bahwa persediaan BBM di depo utama masih mencukupi. Ia menyebut terminal BBM Manggis dan Pesanggaran tetap memiliki pasokan yang memadai serta memperkirakan distribusi akan kembali normal dalam waktu satu hingga dua hari. Koster juga membantah dugaan bahwa pasokan BBM Bali dialihkan untuk memenuhi kebutuhan kegiatan di daerah lain, termasuk MotoGP Mandalika.

Di sisi lain, Pertamina mengakui adanya kendala teknis dalam proses bongkar muat kapal tanker pada 12 Oktober. Masalah pada jangkar kapal menyebabkan proses pembongkaran yang semula dijadwalkan berlangsung pada pagi hari baru selesai sekitar pukul 22.00. Pertamina pun menyampaikan permohonan maaf atas gangguan yang terjadi.

Untuk mempercepat pemulihan pasokan, Pertamina dilaporkan telah menyalurkan sekitar 21,7 juta liter BBM, termasuk 19,2 juta liter Pertalite dan sekitar 3 juta liter Pertamax. Pengiriman tambahan puluhan juta liter juga dijadwalkan berlangsung hingga pertengahan Oktober.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2