“Beliau adalah bapak asuh yang mendukung program pemerintah dengan hati. Peran seperti inilah yang kita harapkan bisa membawa kesejahteraan sampai ke tingkat desa dan kelurahan,” ujar Presiden.
KH. Abdul Ghofur dikenal luas sebagai keturunan ke-14 Sunan Drajat, salah satu Wali Songo yang dikenal karena dakwahnya yang menekankan aspek sosial dan ekonomi kerakyatan. Nilai-nilai tersebut diwarisi secara kuat dalam pola pendidikan dan aktivitas pesantren yang ia pimpin.
Lebih dari itu, hubungan personal KH. Abdul Ghofur dengan Presiden Prabowo telah terjalin lama. Dalam berbagai kesempatan, keduanya berdiskusi soal strategi pembangunan berbasis rakyat. Bahkan, nama partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) disebut-sebut merupakan hasil buah pikir KH. Ghofur, terinspirasi dari Sunan Giri dan Sunan Drajat.
Bagi banyak kalangan, penghargaan yang diberikan kepada KH. Abdul Ghofur tidak hanya bermakna pribadi, tetapi merupakan pengakuan negara terhadap peran strategis pesantren dalam membangun peradaban Indonesia yang inklusif, mandiri, dan berkeadilan.
Pesantren, yang sering dipandang sebatas lembaga pendidikan agama, kini kian diperhitungkan sebagai kekuatan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat. Dan figur KH. Abdul Ghofur menjadi simbol dari transformasi itu.
Dengan kesederhanaan dan visi besar, KH. Abdul Ghofur telah meninggalkan jejak yang melampaui batas institusi pesantren. Ia tidak hanya mendidik, tetapi juga menginspirasi kebijakan publik, memperkuat ekonomi desa, dan menghadirkan wajah Islam yang damai, membumi, dan berpihak pada yang lemah.(*)





