Seorang wali murid, Juharti, mengaku panik saat mengetahui anaknya ikut menjadi korban.
“Kondisinya masih lemas dan sesak napas setelah makan nasi goreng MBG. Saya berharap ada perhatian dan tanggung jawab dari pihak terkait,” ungkapnya.
Hingga kini, pihak sekolah, pemerintah daerah, maupun Badan Gizi Nasional (BGN) belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab keracunan massal ini. Sementara itu, keluarga korban berharap ada evaluasi menyeluruh agar kasus serupa tidak terulang kembali.
Kasus keracunan massal MBG ini menjadi sorotan publik karena terjadi beruntun di beberapa daerah Jawa Timur. Banyak pihak mendesak agar kualitas bahan makanan dan mekanisme distribusi program MBG diawasi lebih ketat.(*)






