Menurut pedagang, berkurangnya pasokan dari wilayah selatan Jawa Timur menjadi penyebab utama kenaikan harga. Curah hujan tinggi disebut mengakibatkan banyak tanaman rusak, bahkan gagal panen, sehingga volume barang yang masuk ke pasar menurun drastis.
“Sekarang harganya sudah Rp75.000 per kilo, padahal sebelumnya masih sekitar Rp45.000 sampai Rp50.000. Banyak daerah terdampak banjir, jadi pasokan berkurang,” kata Rahmat, salah seorang pedagang sayur, Sabtu (13/12/2025).
Kondisi ini turut memengaruhi daya beli masyarakat. Sejumlah pembeli mengaku mulai mengurangi jumlah belanja, khususnya untuk komoditas cabai yang harganya melonjak tajam. Pedagang pun khawatir tren kenaikan harga masih akan berlanjut, terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, jika cuaca ekstrem terus terjadi.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah antisipatif, seperti penguatan distribusi dan pengendalian pasokan, guna menekan lonjakan harga agar tidak semakin memberatkan konsumen, terutama rumah tangga dan pelaku usaha kuliner kecil.





