BNPB juga memperingatkan potensi penyakit berbasis lingkungan akibat cairan pembusukan jenazah yang bisa mencemari sumber air bersih di sekitar lokasi.
Meski jenazah tidak menularkan penyakit menular langsung seperti HIV, TBC, atau COVID-19, namun pencemaran air dapat memicu penyakit seperti diare, kolera, tifoid, hingga hepatitis A.
Sebagai pencegahan, penyemprotan disinfektan dan insektisida diperbanyak di area evakuasi. Selain itu, BNPB menyalurkan alat pelindung diri (APD) tambahan bagi petugas, seperti masker, sarung tangan, sepatu boots, dan kacamata pelindung.
Maraknya ambulans dan kendaraan darurat yang melintas turut menimbulkan tekanan psikologis bagi keluarga korban.
Sebagai upaya pemulihan, Dinas Sosial dan Pusat Krisis Kesehatan (Puskris) RI membuka layanan psikososial gratis di posko sekitar lokasi.
Bahkan, bagi keluarga santri yang mengalami kelelahan atau gangguan kesehatan ringan, disediakan layanan pijat refleksi dan bekam tradisional gratis sebagai bagian dari perawatan holistik.
BNPB, Basarnas, TNI, Polri, serta seluruh pihak yang terlibat terus berupaya semaksimal mungkin untuk menuntaskan proses pencarian dan penanganan darurat ini.
“Kami mohon doa dan dukungan seluruh masyarakat agar proses kemanusiaan ini dapat segera diselesaikan,” tutup Budi.(**)





