Meskipun pada awalnya kebijakan ini menuai reaksi dari para siswa yang merasa kepanasan, pihak sekolah menilai proses adaptasi berjalan dengan sangat baik. Menariknya, para siswa kini mulai kreatif dengan membawa kipas angin portable atau manual secara mandiri sesuai kebutuhan masing-masing.

“Awalnya mungkin anak-anak merasa panas, tapi sekarang sudah biasa. Mereka membawa kipas sendiri, dan itu justru lebih efektif. Sebab, tidak semua anak cocok dengan AC; ada yang malah masuk angin kalau terlalu lama di ruangan ber-AC,” jelasnya lagi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kebijakan yang mengedepankan efisiensi ini terbukti memberikan dampak positif bagi keuangan sekolah. Pengurangan penggunaan perangkat elektronik berdaya tinggi seperti AC secara massal telah menurunkan biaya tagihan listrik dan biaya perawatan gedung secara signifikan.

Pihak sekolah mengonfirmasi bahwa selisih biaya yang dihemat dari efisiensi energi ini dapat dialokasikan untuk pengembangan sektor pendidikan lainnya yang lebih krusial.

“Transformasi MAN 1 Lamongan ini menjadi bukti bahwa institusi pendidikan dapat tetap produktif dengan cara-cara yang lebih sederhana dan ramah lingkungan,” pungkasnya.(Bs).

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2