BERITASIBER.COM | YOGYAKARTA – Penjabat Wali Kota Yogyakarta Sugeng Purwanto bersama Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani serta stakeholder terkait, secara resmi melaunching aplikasi Pemantauan Permasalahan Gizi Balita (PPGB) di Burza Hotel Yogyakarta, Senin (15/7/2024).
Pada aplikasi PPGB ini bagian dari program Pemantauan Terpadu Permasalahan Gizi Balita (PANDU SAGITA) dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta kepada Tim Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kota Yogyakarta, tingkat Kemantren, tingkat Kelurahan serta masyarakat. Aplikasi tersebut bisa dilihat melalui Jogja Smart Service (JSS).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahma Aryani mengatakan, aplikasi PPGB merupakan program yang digunakan untuk menampilkan data anak-anak usia dibawah 2 tahun (baduta) dan balita yang bermasalah gizi.
Selain itu, PPGB ini dapat digunakan untuk melihat masalah gizi per tahunnya dengan statistik masalah gizi per Kemantren dan Kelurahan. Tak hanya itu, aplikasi PPGB ini juga dapat melihat statistik sasaran yang diukur, ditimbang dan diukur, serta ditimbang.
Dengan adanya pemantauan terpadu ini, diharapkan permasalahan gizi pada balita dapat diidentifikasi secara dini dan ditangani dengan cepat dan tepat.
“Diharapkan aplikasi PPGB ini dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam upaya pemantauan dan penanganan masalah gizi balita khususnya di Kota Yogyakarta,” kata Emma pada sambutannya.
Emma menambahkan, menurut prevalensi stunting hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 secara nasional masih di angka 21,5 persen. Sehingga angka tersebut masih belum memenuhi target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2020-2024. Harapannya, target nasional pada tahun 2024, prevalensi stunting turun sebesar 14 persen.
Sementara itu, dari hasil Data Pemantauan Status Gizi melalui Capaian Intervensi Serentak, per 30 Juni 2024 di Kota Yogyakarta nilai prevalensinya ada di angka 10,6 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan dengan prevalensi tahun 2023 yaitu di angka 11,8 persen.
“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, yang ditandai dengan tinggi badan yang berada di bawah standar untuk usia mereka. Kondisi ini memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik dan kognitif anak, yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan,” ujarnya.





