Ia mencontohkan, berbagai sektor strategis di Indonesia masih bergantung pada dukungan negara maju, khususnya dalam hal teknologi, komunikasi, hingga industri transportasi dan pertambangan. Ketergantungan ini, menurutnya, dapat menjadi titik lemah apabila terjadi tekanan ekonomi seperti embargo atau pembatasan akses.
“Kalau sampai ada embargo, dampaknya bisa luas. Tidak hanya pada ekonomi, tetapi juga aktivitas masyarakat sehari-hari yang saat ini sangat bergantung pada teknologi,” katanya.
Lebih lanjut, ia juga menyinggung hubungan Indonesia dengan Iran yang dinilai lebih banyak dilandasi kedekatan emosional dan solidaritas sesama negara berpenduduk Muslim. Namun, dalam praktiknya, hubungan ekonomi Indonesia masih banyak bertumpu pada negara-negara yang memiliki keterkaitan erat dengan Amerika Serikat.
Dengan kondisi tersebut, Gus Muwafiq mengimbau agar pemerintah mengedepankan perhitungan yang matang dan tidak mengambil langkah yang berisiko tinggi bagi stabilitas nasional. Ia menilai, kebijakan luar negeri Indonesia harus mampu menyeimbangkan antara idealisme dan kepentingan pragmatis.
Menurutnya, kehati-hatian dalam menentukan sikap bukan berarti tidak memiliki prinsip, melainkan bagian dari strategi untuk menjaga kepentingan nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
“Pemerintah harus benar-benar berhitung. Jangan sampai keputusan yang diambil justru merugikan bangsa sendiri,” pungkasnya.






