Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan secara masif menerjunkan tim dokter hewan dan fasilitator ke lapangan. Mereka melakukan inspeksi dan pemeriksaan kesehatan (antemortem) secara berkala di berbagai titik krusial penjualan. Titik peninjauan meliputi kandang komunal milik peternak, lapak-lapak pedagang musiman di pinggir jalan protokol, hingga pasar hewan regional.

Tidak hanya mandek pada pemeriksaan fisik, regulasi ketat juga diberlakukan pada aspek hulu transportasi. Jalur lalu lintas ternak yang keluar masuk wilayah hukum Lamongan dipantau secara ketat 24 jam. Setiap armada pengangkut wajib melengkapi dokumen resmi berupa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) atau Surat Veteriner (SV).

“Program vaksinasi rutin terus berjalan tanpa putus sebagai benteng pertahanan utama kita melawan PMK. Kami juga melakukan desinfeksi menyeluruh secara berkala di area pasar hewan serta gencar melakukan edukasi dan sosialisasi kepada para peternak mengenai manajemen pencegahan penyakit,” urai Pak Yes panjang lebar mengenai proteksi kesehatan ternak di wilayahnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Langkah taktis dan konsistensi Kabupaten Lamongan dalam menjaga stabilitas populasi ternak memanen apresiasi dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Menurut Khofifah, tingginya angka ketersediaan dan serapan pasar terhadap hewan kurban mencerminkan sinyalemen positif makroekonomi masyarakat pascapandemi yang semakin pulih, serta tingginya kesadaran beribadah umat Muslim.

“Hari ini kita meninjau di tanggal 7 Dzulhijah, artinya pergerakan kurva penjualan masih akan terus merangkak naik hingga hari H nanti. Potensi ekonominya sangat besar. Terlebih, fakta bahwa Lamongan adalah daerah gudang sapi terbesar dengan jaminan kondisi aman dan sehat ini harus terus digaungkan ke publik agar konsumen merasa tenang saat bertransaksi,” tegas Khofifah di sela-sela peninjauannya.

Dampak nyata dari ekosistem peternakan yang sehat dan didukung penuh oleh regulasi pemerintah ini dirasakan langsung oleh Suparto, peternak asal Kecamatan Kedungpring. Pada momen Idul Adha tahun ini, Suparto mengelola sedikitnya 300 ekor sapi siap jual. Hebatnya, sekitar 70 persen dari total peliharaannya tersebut kini telah ludes terpesan.

Konsumen pasar modal peternakan milik Suparto kini tidak lagi didominasi oleh pasar lokal atau wilayah aglomerasi penyangga seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo saja. Berkat reputasi kesehatan ternak Lamongan yang terjaga, jangkauan pengiriman sapinya kini meluas hingga menembus luar Pulau Jawa, salah satunya ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Suparto juga mengakui bahwa eksistensi para peternak rakyat di Lamongan sangat terbantu oleh kehadiran stimulus dan kehadiran program nyata dari pemerintah daerah maupun provinsi.

“Secara riil memang ada kenaikan biaya operasional dan produksi pakan, tetapi hal tersebut untungnya diimbangi dengan harga jual di pasar yang juga ikut naik dan kompetitif. Kami sebagai peternak merasa sangat diuntungkan dan terbantu dengan adanya program vaksinasi gratis, bantuan bibit penggemukan berkualitas, hingga dukungan perluasan jaringan pemasaran seperti ini,” pungkas Suparto penuh syukur.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2