BERITASIBER.COM – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali melakukan penyegaran organisasi di lingkungan Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri. Salah satu jabatan strategis yang mengalami pergantian adalah Kepala Biro Kedokteran Kepolisian (Karodokpol), yang kini resmi dijabat oleh Brigjen Pol. Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, D.F.M., Sp.F.
Pengangkatan Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti sebagai Karodokpol Pusdokkes Polri tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1584/VII/KEP/2026 tertanggal 31 Juli 2026. Dalam jabatan barunya, ia menggantikan Brigjen Pol. dr. Nyoman Eddy Purnama Wirawan, D.F.M., Sp.F.
Sementara itu, posisi yang sebelumnya diemban Sumy Hastry sebagai Kepala Biro Laboratorium Kedokteran Kepolisian (Karolabdokkes) Pusdokkes Polri kini dipercayakan kepada Kombes Pol. Apt. Pancama Putra Hadi Wahyana.
Rotasi jabatan tersebut menjadi bagian dari upaya Polri memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan di bidang kedokteran kepolisian, forensik, serta dukungan kesehatan dalam berbagai tugas penegakan hukum.
Meski sama-sama berada di bawah naungan Pusdokkes Polri, jabatan Karodokpol dan Karolabdokkes memiliki fungsi yang berbeda. Karodokpol berfokus pada penyelenggaraan layanan kedokteran kepolisian yang bersifat operasional, termasuk dukungan medis dalam kegiatan kepolisian, identifikasi korban, pemeriksaan forensik di lapangan, hingga penanganan berbagai kasus yang membutuhkan respons cepat.
Sebaliknya, Karolabdokkes lebih menitikberatkan pada dukungan ilmiah melalui laboratorium forensik. Bidang ini berperan dalam pemeriksaan berbasis sains, analisis DNA, toksikologi, patologi forensik, serta berbagai pengujian laboratorium yang menjadi bagian penting dalam proses pembuktian ilmiah suatu perkara.
Pengangkatan Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti dinilai menjadi langkah strategis mengingat rekam jejak dan pengalaman panjang yang dimilikinya di bidang kedokteran forensik.
Perwira tinggi Polri kelahiran Jakarta, 23 Agustus 1970, ini memulai karier kepolisian melalui Sekolah Perwira (SEPA) Polri pada tahun 1998. Minatnya terhadap dunia kedokteran forensik semakin berkembang setelah terlibat dalam proses identifikasi korban tragedi Bom Bali I pada tahun 2002, sebuah peristiwa yang menjadi titik penting dalam perjalanan profesionalnya.





