“Bela negara memiliki korelasi langsung dengan pengamalan Pancasila. Nilai-nilai itu harus hidup dalam keseharian, bukan hanya berhenti di tataran normatif,” ujarnya.
Untuk memperkuat hal tersebut, BPIP mendorong konsolidasi seluruh sumber daya nasional melalui pendekatan struktural dan kultural secara gotong royong. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, dan komunitas pemuda dinilai menjadi kunci agar nilai Pancasila tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Sementara itu, Anggota Dewan Pertimbangan Pusat PPM LVRI, Bambang Sulistomo, menekankan bahwa bela negara di era modern bertumpu pada keberanian. Putra pahlawan nasional Bung Tomo ini menyebut keberanian sebagai modal utama untuk menghadapi kenyataan hidup yang kerap tidak sejalan dengan harapan.
“Setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda. Generasi muda hari ini menghadapi kesenjangan besar antara cita-cita dan realitas sosial ekonomi,” ujar Bambang.
Ia juga menyoroti ketatnya persaingan lapangan kerja yang menuntut mental tangguh dan berani. Menurutnya, tanpa keberanian, generasi muda akan sulit melahirkan gagasan baru dan berkontribusi nyata bagi bangsa.
Dengan penguatan ideologi Pancasila dan semangat bela negara yang adaptif, generasi muda diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa serta menghadapi tantangan global di masa depan.





