Setelah terjadi perdebatan sengit dan desakan dari pihak keluarga untuk melakukan pengecekan ulang, keajaiban yang ironis terjadi. Alat nebulizer tersebut akhirnya ditemukan di dalam klinik dan baru bisa digunakan untuk menangani pasien. Ketidaksiapan staf dalam menguasai inventaris alat medis ini menambah daftar panjang buruknya manajemen pelayanan di fasilitas kesehatan tersebut.
Setelah sempat mendapatkan penanganan darurat yang tertunda, pasien akhirnya diperbolehkan pulang dengan dibekali obat-obatan. Namun, ketenangan keluarga hanya bertahan sesaat. Tak lama setelah sampai di rumah, kondisi sang nenek kembali drop dan sesak napasnya kambuh dengan intensitas yang lebih parah.
Merasa trauma dengan pelayanan di klinik sebelumnya, keluarga memutuskan untuk segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan lain yang lebih kompeten. Kejadian ini menjadi pengingat pahit bahwa keterlambatan penanganan di menit-menit awal (golden period) dapat berdampak fatal bagi keselamatan pasien.
Hingga saat ini, pihak pengelola klinik terkait belum memberikan klarifikasi resmi atau permohonan maaf kepada keluarga pasien. Sementara itu, kolom komentar di unggahan tersebut dipenuhi oleh desakan warganet agar Dinas Kesehatan (Dinkes) segera turun tangan melakukan investigasi dan memberikan sanksi tegas kepada oknum petugas maupun klinik yang bersangkutan.
Publik berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh instansi kesehatan untuk kembali memprioritaskan keselamatan pasien di atas segalanya, serta memastikan seluruh petugas medis bekerja dengan standar profesionalisme yang tinggi tanpa terdistraksi oleh gadget saat bertugas.






