Kampus didorong untuk aktif menghadirkan hilirisasi riset yang berdampak langsung. Kehadiran UNISLA harus dirasakan sebagai solusi nyata bagi berbagai persoalan riil, baik di tingkat lokal Kabupaten Lamongan, nasional, hingga kancah global.
“Mahasiswa dan lulusan kita harus menjadi agen perubahan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Abdul Ghofur menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh elemen civitas akademika mulai dari jajaran pembina, pengurus Yayasan Pembina Perguruan Tinggi Islam (YPPTI), dosen, hingga tenaga kependidikan. Ia juga mengimbau agar seluruh lini menanggalkan ego sektoral dan memperkuat kolaborasi kolektif demi membawa UNISLA menembus persaingan internasional.
Sementara itu, perwakilan YPPTI Sunan Giri, Bambang Eko Muljono, memaparkan sejumlah target strategis kelembagaan yang harus segera direalisasikan menyusul usia UNISLA yang ke-26 tahun.
Bambang mencatat bahwa secara institusional dan kelembagaan, sebagian besar program studi di UNISLA telah mengantongi akreditasi “Sangat Baik” dan predikat unggul. Kendati demikian, tantangan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Target yang harus segera dicapai adalah menelurkan profesor atau guru besar asli dari internal UNISLA, serta mendorong akselerasi penelitian dosen menuju hilirisasi produk melalui kemitraan strategis dengan dunia usaha dan dunia industri [DUDI],” ungkap Bambang.
Ia mengakui bahwa upaya tersebut tidak mudah karena membutuhkan persiapan matang, khususnya dalam mendorong kualifikasi dosen bergelar Doktor (S3) serta menggenjot produktivitas riset yang aplikatif. Meski demikian, dengan sinergi yang solid antara yayasan, rektorat, dan seluruh civitas akademika, YPPTI optimis target-target strategis tersebut dapat tercapai dalam waktu dekat.





