“Di era di mana algoritma lebih berkuasa daripada sanad ulama, mantiq dan critical thinking menjadi senjata penting melawan falasi logika digital seperti ad hominem dan generalisasi berlebihan. Muktamar ini bukan hanya ajang diskusi, tetapi juga momentum penyusunan kurikulum mantiq yang relevan bagi pesantren dan perguruan tinggi,” ujar Dr. Fikri, Minggu (2/11/2025).

Sementara itu, Prof. Abdul Kadir Riyadi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA, menegaskan bahwa kegiatan ini mendukung agenda nasional Moderasi Beragama yang digagas oleh Kementerian Agama RI.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar memiliki tanggung jawab membangun literasi nalar publik. Integrasi mantiq dan critical thinking akan memperkuat kurikulum PTKIN serta memperluas jejaring kolaboratif dengan komunitas digital,” jelas Prof. Kadir.

Muktamar ini diharapkan menghasilkan kerangka epistemologis integrasi mantiq dan critical thinking, modul kurikulum tematik, serta rekomendasi kebijakan untuk mendukung penguatan literasi digital keagamaan.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis UIN Sunan Ampel Surabaya dalam memperkuat kapasitas akademik umat Islam menghadapi tantangan era digital, sekaligus memperkokoh peran kampus dalam membangun nalar publik yang kritis, moderat, dan inklusif.(*)

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2