Pemilik Sanggar Batik Mbah Guru, Endang Dzunuraini, menjelaskan bahwa pemanfaatan pewarna alami merupakan bentuk komitmen untuk mengembangkan produksi batik yang lebih berkelanjutan.

 

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Kami menggunakan pewarna alami yang bisa diregenerasi. Di kebun kami ada lebih dari 100 jenis tanaman pewarna alami yang dimanfaatkan untuk produksi batik,” ujar Endang.

 

Ia menambahkan, inovasi pemanfaatan limbah pertanian menjadi salah satu ciri pengembangan produk di sanggarnya. Melalui kreativitas dan pengolahan yang tepat, bahan yang sebelumnya dibuang dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi.

 

“Kami berinovasi mengubah limbah yang awalnya tidak berguna atau dibuang begitu saja menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, yaitu batik dengan pewarna alami dari limbah pertanian,” tambahnya.

 

Selain mengedepankan bahan pewarna alami, Sanggar Batik Mbah Guru juga mengembangkan motif yang terinspirasi dari kekayaan alam, seperti bunga melati dan bunga tanjung. Pengembangan motif dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter batik tulis sekaligus memperhatikan tren pasar agar produk lokal tersebut memiliki peluang menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk pasar internasional.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2