Abdul Rahman, yang kini memiliki 22 ekor sapi dari berbagai jenis, termasuk lokal, Bali, Ongol, dan metal cross, berharap kisah Rambo bisa menginspirasi peternak muda di Biak dan Papua secara umum.
“Yang penting kerja dengan hati. Insya Allah, hasilnya akan berkah,” ujarnya, menambahkan bahwa meski Rambo telah dilepas, ia optimis bisa menghasilkan “penerus Rambo” dari peternakannya.
Biaya pemeliharaan sapi di peternakannya mencapai Rp2 juta per ekor per bulan. Selain Rambo yang dibeli oleh Presiden, Abdul Rahman juga berencana untuk berkurban dua ekor sapi secara pribadi tahun ini.
Program Banmas Kurban 2024 ini menjadi bukti bahwa peternakan di Papua memiliki potensi besar untuk menghasilkan hewan kurban berkualitas tinggi.
Sapi Rambo telah diserahkan secara simbolis dan akan menjadi bagian dari rangkaian ibadah kurban tahun ini.
Dinas Peternakan setempat menyatakan bahwa pemilihan Rambo sebagai hewan kurban Presiden merupakan pencapaian yang membanggakan bagi sektor peternakan di Papua, sekaligus menunjukkan dukungan terhadap peternak lokal.
Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan sektor peternakan di daerah tersebut dan meningkatkan kesejahteraan peternak.(*)





