“Agama Buddha ini pada intinya adalah kesadaran. Pradaksina ini ada hubungan dengan kesadaran; saat kita melangkah, di situ kita merenungkan diri,” jelas Brillian.
Ia juga berpesan agar seluruh elemen umat Buddha di Pematangsiantar terus memupuk kesabaran dan menjaga kerukunan, sejalan dengan tema nasional kementerian yakni “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia.” Targetnya, Pematangsiantar mampu melesat menjadi nomor satu sebagai kota paling rukun di Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Ketua DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun, Susanto (Aleng), mengajak umat Buddha khususnya generasi muda untuk menjadikan Waisak sebagai benteng moral di tengah arus modernisasi. Di era kemajuan teknologi saat ini, ia mengingatkan pentingnya melatih welass asih, simpati, dan Upekkha (keseimbangan batin).
Di sisi lain, Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Erbin Chandra SE MM, memaparkan laporan teknis mengenai esensi Pradaksina tahun ini. Erbin menegaskan bahwa ritual berjalan kaki mengelilingi kota ini bukanlah sebuah perayaan euforia atau pawai hiburan semata, melainkan ajang introspeksi total atas pikiran, perbuatan, dan ucapan selama setahun terakhir.
Uniknya, pada ritual Pradaksina kali ini, para peserta dibekali dengan lilin elektrik demi mengikuti perkembangan zaman dan menjaga aspek keamanan.
“Lilin ini melambangkan kebajikan yang harus selalu kita lakukan. Seperti lilin yang mengorbankan dirinya untuk memberikan penerangan bagi siapapun tanpa mempedulikan perbedaan etnis, suku, ras, gender, bahkan semua makhluk,” pungkas Erbin.
Erbin juga mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh Pemko Pematangsiantar. Berkat sinergi kuat antarumat beragama dan pemerintah, Kota Pematangsiantar saat ini sukses menduduki peringkat ke-4 sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia versi Setara Institute. Pihaknya berkomitmen untuk terus mempertahankan dan meningkatkan prestasi positif tersebut di masa depan. (PN)






