“Dakwah hari ini harus mampu menjawab tantangan zaman. Agama tidak boleh jauh dari persoalan nyata yang dihadapi umat,” ujar Gus Adim seusai menerima penghargaan.
Ia menegaskan bahwa penghargaan tersebut menjadi tanggung jawab moral untuk terus berinovasi dan memperluas jejaring kolaborasi, baik dengan pemerintah desa, komunitas pemuda, maupun lembaga pendidikan.
Kepala KUA Kecamatan Pasongsongan turut memberikan apresiasi atas prestasi tersebut. Ia menilai keberhasilan Gus Adim merupakan hasil dari ketekunan, kedekatan dengan masyarakat, serta keberanian menghadirkan pendekatan dakwah yang kontekstual dan aplikatif.
Resepsi HAB ke-80 Kemenag RI di Sumenep tahun ini juga dirangkai dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Rangkaian acara diawali dengan tawassul, pembacaan Al-Qur’an, dan sholawat, sebelum dilanjutkan sambutan pimpinan Kemenag yang menekankan pentingnya transformasi layanan keagamaan yang adaptif dan responsif.
Tausyiah penutup disampaikan oleh Gus Ahmad dan Ning Sheila dari Pondok Pesantren Lirboyo. Keduanya mengajak peserta memaknai peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai fondasi spiritual dalam membangun keluarga dan menghadapi kompleksitas kehidupan modern.
Penghargaan yang diterima Gus Abdul Adim Yasin menjadi penegasan bahwa kerja sunyi di tingkat lokal, ketika dilakukan dengan konsistensi dan inovasi, mampu memberikan dampak luas serta mendapat pengakuan institusional.(Akm).





