BERITASIBER.COM | LAMONGAN – Maraknya serangan hama tikus yang berulang kali merugikan petani mendorong Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan mengambil langkah reflektif sekaligus solutif melalui kegiatan Ruwatan Tani.
Kegiatan ini digelar di Aula MWC NU Solokuro pada Minggu (11/1/2026) atas kolaborasi Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Lamongan.
Ruwatan tani tidak sekadar dimaknai sebagai ritual tradisi, tetapi menjadi ruang kolektif untuk membangun kesadaran bersama tentang relasi manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus PCNU Lamongan, pengurus lembaga dan banom NU, para petani, serta tokoh budaya dan spiritual dari berbagai wilayah di Lamongan.
Ketua PCNU Lamongan, Dr. (HC) Syahrul Munir, menyampaikan bahwa persoalan pertanian yang dihadapi masyarakat tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis semata. Menurutnya, ledakan hama tikus yang kerap terjadi merupakan gejala dari ketidakseimbangan ekosistem yang perlu disikapi secara menyeluruh.
“Petani sudah bekerja keras dengan berbagai metode pengendalian hama, mulai dari pengolahan lahan, pola tanam, hingga penggunaan teknologi. Namun NU memandang perlu menghadirkan ikhtiar batin sebagai penguat kesadaran bahwa alam memiliki hukum dan keseimbangannya sendiri,” ujar Syahrul Munir dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa ruwatan tani merupakan bentuk ikhtiar spiritual yang berjalan seiring dengan ikhtiar lahiriah. Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum introspeksi kolektif atas cara manusia memperlakukan alam selama ini. Dalam pandangan NU, kerusakan lingkungan tidak terlepas dari sikap eksploitatif yang mengabaikan nilai etika dan keberlanjutan.





