Ning Lia kemudian memberikan ilustrasi tentang sebuah negara yang generasi mudanya memilih tidak terlibat dalam politik karena merasa kondisi negaranya sudah cukup sejahtera. Kondisi tersebut, menurutnya, justru dapat membuka ruang bagi kelompok lain untuk mengambil peran dalam lembaga politik.
Ia pun mengingatkan pentingnya keterlibatan anak muda Indonesia dalam ruang-ruang politik dan pemerintahan.
“Terus pemuda bangsa jadi apa? Apakah rela parlemen Indonesia diisi oleh orang migran? Makanya pemuda Indonesia harus jadi pemuda yang melek politik agar kursi legislatif tetap diisi oleh para pemuda Indonesia,” katanya.
Bagi Ning Lia, keterlibatan anak muda tidak harus selalu dimulai dengan masuk ke politik praktis. Kesadaran politik dapat dibangun dari lingkungan kampus, organisasi kemahasiswaan, kegiatan sosial, hingga keberanian mengawal kebijakan publik.
Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah, Ali Usman, menanyakan cara menghadapi sentimen negatif atau pandangan skeptis masyarakat terhadap kinerja anggota DPR maupun DPD.
Menjawab pertanyaan tersebut, Ning Lia menjelaskan bahwa anggota legislatif memiliki kewajiban untuk turun langsung menemui masyarakat melalui kegiatan reses di daerah pemilihan.
Reses, kata dia, menjadi salah satu ruang penting bagi wakil rakyat untuk mendengar secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi konstituen. Mulai dari kebutuhan masyarakat, keluhan terhadap pelayanan publik, hingga berbagai usulan pembangunan.
Aspirasi yang diperoleh dari masyarakat selanjutnya menjadi bahan bagi wakil rakyat untuk diperjuangkan melalui mekanisme kelembagaan. Ia menyebut aspirasi tersebut dapat dirangkum dalam Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) untuk dibawa dalam pembahasan di lembaga legislatif dan ditindaklanjuti bersama pemerintah daerah sesuai kewenangan.
Karena itu, Ning Lia menilai keberadaan wakil rakyat tidak semestinya hanya diukur dari seberapa sering tampil di ruang publik, tetapi juga dari sejauh mana mereka hadir, mendengar, dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat.
Paparan Ning Lia mendapat respons positif dari para mahasiswa baru Universitas Al Hikmah Indonesia Tuban. Suasana semakin hangat ketika sejumlah mahasiswa memberikan love sign sebelum Ning Lia meninggalkan ruangan.
Rektor Universitas Al Hikmah Tuban, Dr Laily Hidayati, S.Psi, M.Psi, Psikolog, mengatakan pihak kampus kembali mengundang Ning Lia sebagai pembicara dalam kegiatan PBAK tahun ini bukan tanpa alasan.
Menurutnya, Ning Lia dinilai memiliki perhatian yang konsisten terhadap dunia pendidikan. Kehadirannya juga diharapkan mampu memberikan perspektif baru sekaligus inspirasi bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Ia berharap mahasiswa baru tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai kehidupan akademik, tetapi juga terdorong menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan bangsa.
Pesan yang disampaikan Ning Lia pun menjadi pengingat bahwa kampus bukan sekadar tempat memperoleh gelar akademik. Kampus juga merupakan ruang untuk membentuk karakter, keberanian berpikir, dan kesiapan generasi muda mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.





