Sebelum mengganti gembok, ia mengaku telah berupaya menghubungi satpam sekolah. Namun, respons yang diterima membuatnya mengambil keputusan tersebut secara mandiri.
“Saya menelepon nomor satpam, yang menjawab anaknya dan mengatakan ayahnya ada di rumah. Saya tunggu beberapa menit, tetapi tidak datang-datang,” ujar Erniati.
Ia kemudian menghubungi kembali nomor tersebut dan mendapat jawaban berbeda.
“Saat saya telpon lagi, istrinya yang mengangkat dan mengatakan satpam tidak ada. Di situ saya merasa kurang dihargai. Karena khawatir keamanan sekolah, saya memutuskan mengganti gembok,” tutur Erniati.
Ia menambahkan, niat awalnya adalah menyerahkan kunci baru kepada petugas keamanan, namun komunikasi yang tidak sinkron membuat situasi berkembang menjadi kesalahpahaman.
Para orang tua siswa menyatakan masih akan mengumpulkan terus dukungan untuk rencana aksi unjukrasa agar kebijakan mutasi tersebut dapat ditinjau kembali.
Mereka menilai kesinambungan program sekolah dan iklim belajar yang sudah terbentuk patut dipertahankan.
“Tujuan kami bukan menolak siapa pun. Kami hanya ingin sekolah tetap pada jalur kemajuan seperti sekarang,” kata Sitti Fatimah.(Arie)





