Program tersebut mencakup pembangunan gudang modern untuk penyimpanan bahan pangan dan produk unggulan desa, fasilitas apotek dan klinik desa guna memperluas akses layanan kesehatan, serta pengadaan sarana transportasi logistik untuk memperlancar distribusi barang.

“Kami ingin koperasi desa menjadi simpul distribusi paling bawah yang efisien, memutus rantai distribusi yang panjang dan mahal, sehingga masyarakat bisa memperoleh barang dengan harga lebih terjangkau,” jelas Ferry.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ia menambahkan, Kopdes Merah Putih juga akan dilengkapi lembaga keuangan mikro berbasis koperasi yang diharapkan mampu memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan mikro di desa.

Dalam konteks yang lebih luas, Ferry menegaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah tidak boleh hanya bertumpu pada sektor keuangan, tetapi harus diperkuat melalui sektor riil yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

“Koperasi syariah harus hadir di tengah masyarakat, menggerakkan sektor riil, dan memberikan manfaat nyata. Inilah esensi ekonomi syariah yang berkeadilan,” tegasnya.

Sebagai Ketua Harian Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ferry juga menyampaikan optimismenya terhadap posisi Indonesia di kancah global. Ia menyebut Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dalam Global Islamic Economy Indicator, sebuah capaian yang menunjukkan besarnya potensi nasional.

“Dengan integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), ekonomi syariah Indonesia bisa naik kelas dan menjadi pemimpin industri halal dunia,” pungkas Ferry.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2