Astronom Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan konsekuensi alami dari bentuk bumi yang bulat. Posisi bulan yang berada di fase sangat tipis membuat visibilitasnya berbeda antara wilayah timur dan barat bumi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di kawasan timur seperti Indonesia, bulan belum sempat muncul ketika matahari terbenam, sedangkan di wilayah barat, bulan sudah memiliki jarak sudut yang cukup dari matahari.

“Pada saat magrib 17 Februari di Indonesia, posisi hilal masih di bawah ufuk, sehingga tidak mungkin diamati. Karena itu, awal Ramadan menurut kriteria Indonesia jatuh pada 19 Februari 2026,” jelas Thomas.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di sisi lain, Muhammadiyah menilai penggunaan KHGT sebagai bentuk kemajuan peradaban dan upaya menyatukan kalender Islam dunia. Menurut organisasi ini, umat Islam membutuhkan kalender global yang pasti agar berbagai agenda ibadah, sosial, dan pendidikan dapat direncanakan jauh hari tanpa ketidakpastian.

Meski berpotensi memunculkan perbedaan, para ulama dan pakar menekankan bahwa kedua metode memiliki landasan ilmiah dan dalil syar’i yang kuat. Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk menyikapi perbedaan ini secara bijak, dewasa, dan saling menghormati.

Perbedaan awal Ramadan bukanlah pertanda perpecahan, melainkan cerminan dinamika ijtihad keilmuan dalam Islam. Yang terpenting, umat diharapkan dapat mempersiapkan diri secara spiritual, menjaga ukhuwah, serta menyambut Ramadan dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2