Pak Yes menambahkan, keberhasilan pembentukan karakter ini tecermin dari skor indeks kesalehan sosial Lamongan yang mencapai angka 89,88. Baginya, angka ini adalah bukti bahwa budaya belajar dan nilai-nilai luhur masih menjadi fondasi utama dalam kehidupan masyarakat Lamongan.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Lamongan berkomitmen untuk terus mengembangkan gerakan ini agar lebih adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. Bupati menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pembelajaran Al-Qur’an, memperkuat budaya literasi, serta memperluas kolaborasi lintas sektor.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Para hafidz dan hafidzah yang dikukuhkan hari ini adalah aset strategis daerah. Mereka adalah harapan besar untuk memimpin Lamongan di masa depan, membawa semangat kemajuan yang tetap harmonis dan berdaya saing,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua Umum LPTQ Lamongan, Moh. Nalikan, dalam laporannya menjelaskan bahwa proses seleksi yang dilakukan tahun ini tergolong sangat ketat. Dari total 7.890 anak yang mengikuti ujian tahfidz selama periode Januari hingga April 2026, sebanyak 6.168 dinyatakan lulus standar.

“Dari jumlah yang lulus tersebut, kami melakukan penyaringan kembali untuk menetapkan 3.162 peserta yang benar-benar memiliki capaian sangat baik atau kategori mumtaz. Bahkan, dari jumlah tersebut, terdapat 64 anak yang berhasil mencapai predikat mumtaz istimewa dengan perolehan nilai sempurna di rentang 98 hingga 100,” jelas Nalikan.

Melalui sinergi antara Pemkab dan LPTQ, gerakan ini diharapkan terus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an, tidak hanya sebatas membaca dan menghafal, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari, guna mewujudkan Lamongan yang lebih maju dan berkarakter.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2