Sementara itu, tradisi unggahan berasal dari kata “unggah” yang berarti naik, dimaknai sebagai naiknya bulan Ramadan. Tradisi ini dilakukan tepat sehari sebelum puasa dimulai.

Rangkaian unggahan hampir serupa dengan megengan, yakni doa bersama, tahlilan, serta pembagian nasi berkat dan jajanan tradisional. Unggahan menjadi penegasan kesiapan spiritual dan sosial masyarakat dalam menyambut Ramadan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tokoh budaya setempat menilai, megengan dan unggahan memiliki keterkaitan yang erat dan saling melengkapi. Megengan berfungsi sebagai sarana introspeksi dan pembersihan diri, sedangkan unggahan menjadi momentum penyambutan Ramadan dengan penuh syukur dan kebersamaan.

“Tradisi ini mencerminkan nilai harmoni, gotong royong, dan rasa syukur. Di tengah modernisasi, megengan dan unggahan tetap relevan karena memperkuat ikatan sosial serta membangun kesadaran spiritual masyarakat,” ujar salah seorang sesepuh desa.

Melalui pelestarian tradisi megengan dan unggahan, masyarakat Jawa tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkaya makna ibadah Ramadan sebagai perjalanan lahir dan batin menuju pribadi yang lebih baik.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2